Turki dan Momentum Kebangkitan Islam di Tengah Wabah

Oleh Teuku Zulkhairi Jika ada sejumlah kecil negara yang paling bisa mengelola krisis akibat wabah virus corona yang disingkat Co...




Oleh Teuku Zulkhairi

Jika ada sejumlah kecil negara yang paling bisa mengelola krisis akibat wabah virus corona yang disingkat Covid-19 ini menjadi keuntungan dan pengaruh di pentas global, maka Turki adalah salah satunya. Wabah virus corona ini menunjukkan Turki yang memiliki daya tahan di satu sisi, sekaligus menjadi ajang “kampanye” narasi peradaban luhur mereka yang dapat dibaca oleh masyarakat dunia di sisi lainnya.

Saat negara-negara Uni Eropa kelimpungan menghadapi wabah virus corona yang mengacaukan infrastruktur kesehatan mereka – yang menunjukkan ‘aib” Uni Eropa di mata dunia-, Turki justru menunjukkan kepada dunia keberhasilan infratruktur kesehatan domestiknya yang dibangun di era dominasi Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berhaluan ‘Islamis” yang dipimpin Presiden Receb Tayyib Erdogan.

Seperti halnya negara-negara utama dunia lainnya, Turki memang belum berhasil mengatasi wabah virus corona, tapi fakta menunjukkan bahwa mereka adalah negara yang paling siap dengan infrastruktur kesehatan domestiknya.

Turki bukan hanya merawat dengan sangat baik warga negara mereka dan orang-orang asing yang berada disana seperti para pelajar asing, namun juga faktanya mereka sudah sampai pada kemampuan menjemput warganya yang sakit dengan jet ambulance di luar negeri untuk dirawat di dalam negeri.

Turki memperlakukan setiap warganya dengan sangat baik. Bandingkan dengan Amerika Serikat misalnya, dimana beberapa waktu lalu puluhan jenazah korban virus corona ditemukan dalam sebuah truk di Brooklyn, New York.

Ketika Turki mampu survive, pada saat yang sama sejumlah negara Eropa mengeluh bahwa Uni Eropa tidak bisa membantu mereka dalam situasi sulit ini. Menunjukkan bahwa kelemahan Uni Eropa yang tidak mampu survive dalam situasi sulit akibat wabah virus corona ini.

Dan dalam kondisi kesulitan Uni Eropa menghadapi wabah, bantuan alat kesehatan Turki akhirnya mengalir ke hampir seratusan negara, termasuk ke banyak negara Uni Eropa sehingga Turki menuai pujian dari banyak negara-negara Uni Eropa atas solidaritas yang ditunjukkan Turki di masa sulit.

Tercatat, bantuan alat kesehatan Turki untuk melawan wabah virus corona dikirim ke Italia, Prancis, Spanyol, Amerika Serikat dan juga ke negara-negara Balkan seperti Serbia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Macedonia, dan Kosovo atas instruksi Presiden Recep Tayyip Erdogan. Juga ke Iran, Palestina, Libya, Pakistan dan sebagainya.

Turki memang “bersaing” dengan Cina dalam distribusi alat kesehatan ke negara-negara Eropa. Tapi jangan lupa, bahwa saat ini banyak negara Eropa yang menyerang rezim komunis Cina karena menutupi informasi awal munculnya virus corona di Wuhan. Media-media terkemuka Jerman misalnya bahkan menyerang Xi Jinping secara terbuka di halaman utamanya dan menyebut rezim komuns Xi Jinping sebagai biang kerok kerusakan dunia.

Kembali ke Uni Eropa. Setelah pasca operasi “kasih sayang” Turki membantu banyak negara Eropa dalam melawan virus corona ini, maka tidak heran jika kemudian Erdogan beberapa waktu lalu kembali mengingatkan Uni Eropa akan ruginya mereka jika tidak menerima Turki masuk ke Uni Eropa. Seolah Erdogan sedang mengatakan begini: “Kalian tidak menerima kami, tapi kami tetap membantu kalian. Apalagi jika kalian menerima kami sebagai bagian dari Uni Eropa”.

Oleh sebab itu, tidak diragukan lagi untuk saat ini daya tawar Turki semakin besar di hadapan Uni Eropa. Rasanya, pasca situasi sulit akibat wabah virus corona ini, tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk menolak bergabungnya Turki dalam persatuan mereka. Turki sudah menunjukkan kedermawanannya. Ketulusannya dalam masa-masa sulit.

Tapi keinginan Turki agar dapat bergabung dengan Uni Eropa bukan berarti Turki tidak bisa hidup tanpa Uni Eropa. Turki sejauh ini justru semakin kuat meskipun tidak menjadi bagian dari Uni Eropa. Bahkan bisa dikatakan untuk saat ini Uni Eropa lah yang paling membutuhkan Turki. Dalam menghadapi krisis pengungsi Suriah misalnya.

Eropa akan mengalami krisis pengungsi yang parah jika saja Turki membuka lebar pintunya bagi pengungsi yang ingin menuju Eropa. Jangankan untuk menangani pengungsi Muslim Suriah yang memang tidak diharapkan kedatangannya oleh masyarakat Uni Eropa karena idenitas keislaman para pengungsi, wabah virus corona juga menunjukkan bahwa pada dasarnya Uni Eropa tidak sekuat yang dibayangkan sebelumnya.

Jadi, bergabungnya Turki ke Uni Eropa akan memberi keuntungan yang sangat plus bagi Turki. Jika Turki diterima ke dalam Uni Eropa, mungkin Turki bersama Jerman akan menjadi pihak yang paling berpengaruh di Uni Eropa pasca keluargnya Inggris melalui referendum Brexit.

Sangat mungkin bahwa cahaya Islam akan sepenuhnya menerangi langit Eropa jika kemudian Turki menjadi bagian dari Uni Eropa. Jangan lupa, kemana pun perginya, orang-orang Turki pasti akan membawa identitas keislaman mereka. Untuk kita orang Aceh, Anda bisa menyaksikan sendiri bagaimana misalnya eksistensi orang-orang Turki di Aceh dengan jaringan pesantren tahfiz dan kitab kuningnya.

Uni Eropa sudah menolak keanggotaan Turki sejak 61 tahun yang lalu karena ketakutan jika benua Eropa akan dibanjiri populasi Muslim Turki. Namun kini mereka cepat atau lambat akan mengakui bahwa Turki dengan identitas Islamnya bukanlah ancaman bagi benua biru itu. Islam sebagai identitas Turki adalah rahmat bagi sekalian alam.

Terbaru, misalnya perubahan sikap Uni Eropa dalam masalah Libya. Mereka akhirnya mendukung langkah Turki di tanah Omar Mukhtar tersebut, mendukung pemerintahan sah Government of National Accord (GNA) pimpinan Fayez al-Sarraj yg sedang dirongrong jenderal Hafthar yang dibeking oleh Prancis, Uni Emirate Arab, Mesir, Arab Saudi dan Yunani.

Ketika posisi Turki yang semakin kuat ini, pada saat yang sama, kita menyaksikan dua kekuatan utama dunia saat ini, Amerika Serikat – Cina hampir berada diambang perang besar, sebagai akumulasi persoalan perang dagang dan perang pengaruh mereka di wilayah Pasifik, dan juga akibat semakin menajamnya kecurigaan Barat bahwa Virus Corona merupakan senjata biologis buatan Cina. Setidaknya masyarakat Barat menilai bahwa virus ini telah ditutupi secara sengaja oleh rezim Xi Jinping di awal kemunculannya.

Selain itu, saat ini Turki menikmati pengaruh besarnya gerakan kebudayaannya. Harus diakui, Turki juga berhasil melakukan ekspansi kebudayaannya di akar rumput masyarakat Muslim. Film-film sejarah Turki yang menampilkan identitas Islam menjadi sangat digemari oleh Muslim dunia.

Di bulan ramadhan ini di tengah wabah virus corona, serial “Kebangkitan Ertughrul” menjadi tontotan yang paling digemari masyarakat Pakistan, sebagai negara mayoritas Muslim dengan populasi yang mencapai lebih dari 200 juta jiwa.

Kebangkitan Turki jelas merupakan representasi dari kebangkitan Islam. Kita katakan kebangkitan Islam karena pertama bahwa populasi Turki didominasi oleh umat Islam, yang kedua bahwa narasi politik Turki di pentas global sejak dua dekade silam jelas-jelas merepresentasikan filantropi politik Islam, utamanya berkaitan dengan perlindungan orang-orang lemah di seluruh dunia.

Saat ini, di tengah wabah virus corona, Turki memperkuat kehadirannya di Suriah untuk melindungi umat Islam yang menjadi oposisi yang diperangi rezim Bassar Assad yang didukung Rusia dan Iran.

Turki juga memperkuat kehadiran militernya di Libya untuk menopang pemerintah sah negara itu dari rongrongan jenderal Khalifa Hafthar. Seorang jenderal gila kekuasaan yang lama menetap di Amerika Serikat dan dengan dukungan sejumlah negara jahat kini memerangi pemerintahan sah GNA. Sebelumnya, Turki juga berhasil menjaga Qatar yang diblokade saudara-saudaranya di Teluk sehingga mencegah negara ini dari pemerasan gank Teluk.

Wal hasil, dalam kondisi wabah Covid yang melumpuhkan tatanan dunia, Turki berhasil survive dan bahkan meningkatkan pengaruhnya, saat dimana negara-negara Uni Eropa kelimpungan dan dimana dua kekuatan utama dunia Amerika Serikat- China terancam jatuh dalam pertikatan yang semakin dalam dan menghancurkan.

Sebagai negeri Muslim, tentu kita berharap Turki dapat terus menampilkan narasi Islam di pentas dunia. Sehingga masyarakat dunia yang dihinggapi penyakit Islamphobia akan paham, bahwa Islam adalah ramah bagi dunia, sebagai sumber kedamaian dan ketentram dunia. Turki sudah membuktikannya dengan membantu banyak negara-negara dalam situasi sulit selama wabah virus corona.*




Related

Turki 8631112494073223890

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

Terbaru

Pesan Buku Klik Gambar

AMP code

Gerakan Santri Aceh

Karya Tulis

Karya Tulis
Buku

Buku Syariat Islam Membangun Peradaban

Buku Syariat Islam Membangun Peradaban
Buku

Facebook 2

Populer Setiap Saat

Popular Minggu Ini

My Facebook

Comments

item